Monday, 14 October 2013

LOST

Malam ini rasanya sulit sekali untuk memejamkan mataku padahal waktu sudah menunjukkan pukul 1 tengah malam, pikiranku masih saya terbayang dengan kejadian siang tadi.

***

Hari ini aku berencana makan di luar bersama teman-temanku, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 siang  waktunya kami istirahat. " Makan di cafe seberang jalan aja yuk" ajak Syifa. " Ogah ah, gue gak suka makanan di situ " sahut Rizki. " Yasudah kita makan ditempat biasa aja " " jawabku berusaha mencari solusi. " Okedeh kalo begitu " sahut mereka kompak sambil berjalan keluar.
Tak berapa lama kami sampai di restoran yang kami tuju, letaknya memang tak jauh dari tempat kami bekerja mungkin hanya sekitar 10 menit  dengan berjalan kaki. Kami memilih tempat duduk dekat kaca parkiran.

" Mau pesan apa lu ?? " tanya Syifa sambil menunjukkan daftar menu makanan padaku dan Rizki. " Gue kaya biasa aja " jawabku. " Kalo gw ayam bakar aja deh " jawab Rizki kemudian. Syifa pun memesan makanan kepada waiter. Tak lama kemudian pesanan kami datang dan kami pun langsung menyantapnya dengan lahap sambil sedikit berbincang - bincang. Tiba - tiba saja pandanganku mengarah pada sebuah mobil yang baru saja terparkir tak jauh dari tempat dudukku.

Sejenak kemudian keluarlah sesosok pria dengan tubuh proposional dan berjas rapi bak eksekutif muda. Dan rasanya wajah pria itu sangat tidak asing bagiku. Angga sebuah nama yang langsung terlintas dalam pikiranku. Angga adalah sahabat baikku, kami berteman sejak kecil, rumahku hanya berjarak beberapa meter saja dari rumahnya. Kami selalu bersekolah di tempat yang sama dari TK sampai SMA. Dimanapun ada aku pasti ada dia. Keluarganya pun sangat baik dan sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri begitupun sebaliknya.

Namun setelah lulus SMA ayah Angga mendapatkan tugas di luar negeri. Dan karena Angga anak tunggal dan sangat dekat dengan kedua orangtuanya, diapun memutuskan untuk ikut dengan orangtuanya dan melanjutkan sekolahnya disana. Sejak saat itu aku tak lagi melihat wajahya, pada awalnya kami masih berhubungan lewat telepon tapi setelah beberapa bulan kami kehilangan kontak. Tak tau mengapa setiap kali aku menelponnya selalu tidak aktif, aku mencoba mencari informasi dari keluarganya yang ada di Jakarta, tapi tak kudapatkan informasi apapun tentangnya.

Sempat aku khawatir tentang keadaannya tapi aku berusaha untuk selalu berpikir positif. Sudah hampir 5 tahun aku tidak pernah berhubungan lagi dengannya sampai saat ini. " Win" panggil Rizki membangunkanku dari lamunanku." Kenapa lu kok begong gitu ?? " tanya Syifa. Akupun hanya menggeleng saja memastikan bahwa semua baik - baik saja.

Tanpa kusadari pria tersebut sudah berada di dalam cafe dan duduk tak jauh dari tempatku. Pandanganku terus tertuju padanya memastikan apakah itu benar Angga. Dan tiba - tiba dia menoleh ke arah ku saat aku sedang memperhatikannya dan dia tersenyum padaku lalu sejenak dan kemudian kembali menyantap hidangannya. Matanya yang bulat dan senyumnya yang hangat membuatku yakin kalau itu memang benar dia.

Namun mengapa dia tak langsung menyapaku dan menghampiriku seperti dulu yang dia lakukan setiap saat kita bertemu. Dia seperti tak mengenalku lagi apakah mungkin dia lupa kepadaku. Padahal tak banyak yang berubah dariku. Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku hingga pukul 3dini hari dan sampai akhirnya matakupun mulai terpejam.

***



All about me that will never change

Semua tentangku yang tak akan pernah berubah

Maaf bila akhirnya harus seperti ini
Semua ini buka inginku
Tapi mungkin ini memang yang terbaik untuk kita

Maaf bila ku tak pernah bisa menjadi inginmu
Karena aku tetaplah aku
Tak akan pernah menjadi dia

Andai saja kau dapat sedikit mengerti
Mungkin kita masih bisa tetap bersama